THEM

Popular Posts

Wednesday, September 11, 2013



Jakarta, Bisnis Global (Edisi Agustus) - Tayangan religi seakan menjadi tayangan wajib di bulan suci ramadhan, marak antara lain karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim, sehingga acara nya cukup bisa diterima. Dan stasiun-stasiun televisi tahu hal itu, sehingga merekapun berlomba-lomba menyiarkan tayangan religi untuk merebut hati pemirsa nya. Karena itu pula Ramadhan tak hanya menjadi berkah bagi umat Islam, atau perseorangan saja, tetapi juga bagi stasiun-stasiun televisi.
Bila dalam bulan-bulan biasa, sehari-hari stasiun televisi mendapat satu waktu prime time (jam tayang utama, antara pukul 18.00 WIB - 22.00 WIB), maka di bulan Ramadhan, televisi memperoleh dua waktu prime time, yakni periode waktu jelang berbuka puasa (16.30 WIB - 18.30 WIB) dan waktu sahur (02.30 WIB - 04.30 WIB). Berkah kehadiran dua waktu prime time adalah berlipat ganda nya iklan yang ditayangkan dan tentu saja berimbas pada perolehan dana iklan yang masuk kantong pengelola stasiun televisi. Namun, demikian hal itu sesungguhnya sekaligus dilema. Karena pengelola televisi menjadi selalu dituntut untuk menyajikan sesuatu yang tidak saja bisa menghibur, tetapi sekaligus juga bisa menuntun berbagai kalangan pemirsa nya.
Menghadapi tuntutan atau tekanan seperti ini, pengelola televisi cenderung bersandar pada rumusan, bahwa televisi adalah media masa hiburan yang kehadirannya selalu berupaya menyenangkan pemirsa nya (semua pihak).

Tegas nya, karena televisi harus selalu membuat tayangan yang tidak hanya memuaskan puluhan hingga ratusan ribu orang, tetapi puluhan bahkan mungkin ratusan juta orang.  Dari sisi ini, ukuran mutu suatu tayangan hiburan adalah hal yang menyenangkan jutaan orang. Jadi mau tak mau televisi memang harus selalu berkonsultasi dan bercengkerama dengan pasar atau pemirsa yang mayoritas mencari hiburan.

Dan hal seperti ini sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, karenanya kalau harus jujur, banyak pekerja televisi yang frustrasi menghadapi kenyataan pahit -- khususnya ketika tayangan atau acara kreatif buatannya yang dianggap mencerahkan pemirsa, tetapi tidak disambut oleh pengiklan, karena acara yang disiarkan tidak berbau hiburan yang teruji selalu memperoleh rating (ditonton banyak pemirsa). Karenanya itu pula bila melihat tren acara Ramadhan yang hampir selalu bersinggungan dengan kesan tayangan hiburan dan hadiah-hadiah menarik dari berbagai sponsor, mungkin saja menjadi bisa dimaklumi, karena susah nya untuk tayangan seperti acara religius yang bermutu dan bermanfaat tetapi mendapatkan banyak pemirsa.

Alasan itu menjadikan harapan kepada stasiun televisi untuk bisa menghadirkan acara yang mengandung unsur pendidikan, pembelajaran pun menjadi sulit diwujudkan. Terlebih karena acara Ramadhan yang mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan pemirsa nya, kalah pamor bersaing dengan acara-acara humor, kuis, sinetron atau musik. Sementara lain momentum Ramadhan yang juga belum bisa “memaksa” pengelola stasiun televisi untuk menghadirkan kemasan acara religius dalam konteks membangun ketakwaan sebenar-benarnya, yang menancapkan fondasi dan spirit mengendalikan diri lahir maupun batin. Alih-alih mengajak pemirsa berjuang mengendalikan diri justru tayangan televisi mendikte pemirsa nya mengobral pulsa melalui segmen kuis interaktif bertarif premium yang sungguh-sungguh ditunggu dan menghibur pemirsa.
Kesimpulannya, datangnya bulan suci Ramadhan yang selalu “menguntungkan” dalam bisnis media televisi belum bisa menjadi momentum untuk membantu pembentukan akhlak manusia dan bangsa, tetapi malah menggiring semua manusia menjadi manusia yang konsumtif.

Sementara itu televisi yang bagaimanapun merupakan salah satu media dimana semua strata sosial menjadi penonton nya. Dari golongan orang kaya, pejabat tinggi sampai ke orang-orang miskin tanpa jabatan, perlu tayangan religi yang mampu membuka mata pemirsa agar lebih peka dengan keadaan di sekitar dan mampu membuka mata para pekerja dunia pertelevisian terutama di bulan suci ini, Bila hal itu tidak tercapai, akhirnya bisa disimpulkan bahwa sebagian penonton televisi yang rindu akan sajian acara nyaman di bulan Ramadhan akan menuai kecewa. Harapan memperoleh program acara yang menghibur lahir dan bathin di saat berbuka puasa dan makan sahur masih jauh dari harapan. Semua karena isi acara yang dikhidmadkan menemani penonton televisi di malam hari lebih banyak menayangkan acara-acara yang “cengengesan” dari pada acara yang mengandung pencerahan – kecuali tafsir Al Misbach di Metro-TV. Sehingga cenderung mengurangi spirit dan tujuan hakiki ibadah puasa itu sendiri.
http://majalahbisnisglobal.co/sites/default/files/field/image/as-ok.jpgDengan alasan menemani pemirsa yang sedang berpuasa agar tidak ngantuk, tayangan kuis dan komedi menguasai layar kaca. Sekalipun nama acara nya diberi label kata Ramadhan atau sejenisnya, tetapi dari sisi isi baik sinetron, bincang-bincang, komedi, serta kuis nyaris tak banyak mengandung nilai religius.

Kalaupun dikuantitatifkan, aspek humor atau komedi yang dibangun melalui unsur “cengengesan”, canda berlebihan dengan mengumbar rentetan kata - yang kadang tak pantas disuguhkan saat bulan Ramadhan mencapai di atas 80% dari keseluruhan durasi tayangan -- sisanya, dialokasikan untuk nilai religius. Sehingga kesan yang terasa kental adalah bahwa keberadaan religiusitas dalam tayangan acara di bulan suci Ramadhan tak lebih sebagai pemanis saja.

Harapan saya ke depannya tayangan-tayangan di bulan suci ramadhan dapat diperbarui dengan bumbu-bumbu dan misi religi yang mengena di hati.

Oleh :
Atok Sugiarto
Pemimpin Redaksi Majalah Bisnis Global